Header

Dusta industri pangan
Judul: Dusta Industri Pangan, Penelusuran Jejak Monsanto /Penulis: Isabelle Delforge /Penyunting : Hadi Wahono & Danarti Wulandari /Tebal: 15 x 21 cm, xxvi + 232 hal. /Cetakan: I, Yogyakarta 2005

Buku ini membicarakan kerusakan yang ditimbulkan oleh sebuah perusahaan transnasional company bernama Monsanto yang berpusat di amerika. Saat ini dunia pertanian dan segala aspek kehidupan telah dikuasai atau dimonopoli oleh TNC (transnasional company) yang bernama Monsanto. Perusahaan ini pada dasarnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang Agrokimia tetapi seiring berjalannya waktu perusahaan tersebut mulia melirik pasar benih dunia. Benih merupakan kebutuhan petani dari dahulu hingga sekarang. Petani bergerak sendiri dalam hal pelestarian benih dan memilah mana benih yang baik dan buruk. Sebuah peluang untuk memdapatkan penghasilan yang lebih banyak bagi perusahaan yang bersaing dengan perusahaan yang sejenis dengannya.

Penyedia pangan adalah target utama dari Monsanto, dan dari keinginan itulah perusahaan ini berusaha memarginalkan petani dimana petani merupakan produsen pangan melalui kebijakan dunia dalam hal ini world trade organization (WTO).

Kekalahan petani dalam berbagai hal semua diakibatkan oleh satu keyakinan dan mitos bahwa “efficiency” merupakan satu-satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan alam ,ekonomi, dan berbangsa. Prinsip ini membentuk pola pikir TNC dunia bahwa Transnasional company lah yang paling effisien. Untuk mempertegas effisien dari TNC maka para TNC dunia mendesak kebijakan negara tiap-tiap TNC berada bahwa TNC lah yang secara legal berhak sebagai penyedia pangan.
Monsanto adalah produsen dan merupakan perusahaan yang telah berhasil menciptakan bibit yang menurutnya harus dimiliki oleh setiap petani dan untuk itu ia memerlukan suatu peraturan yang mengikat petani sehingga Monsanto memperjuangkan atau lebih tepatnya memaksa petani dunia melalui paten suatu produk ataupun pemilikan kehidupan.

Melalui WTO , Monsanto telah memenangkan satu babak. WTO mensahkan peraturan mengenai kebijakan paten dan pemilikan kehidupan melalui perjanjian internasional mengenai hak kekayaan intelektual (TRIPs). Kekalahan di WTO berdampak buruk terhadap kebijakan negara tempat petani berlindung. Gerakan pertamanya adalah memangkas subsidi terhadap petani, Negara dipaksa untuk meyingkirkan tarif impor untuk produksi pangan sehingga mematikan petani loKal.

Hadirnya TNC sangat memilukan hati petani bagaimana tidak perusahaan ini mulai melakukan klaim terhadap bibit pangan contohnya bibit pohon neem (azadiracta indica) yang telah dikembangkan beribu-ribu tahun lamanya secara tradisional oleh petani india tiba-tiba saja diklaim oleh TNC sebagai produk mereka yang telah mereka ciptakan di dalam laboratorium.

Untuk memperkuat eksistensinya Monsanto menebar janji-janji palsu kepada petani bahwa dengan pemakaian benih yang diproduksi oleh Monsanto maka akan ada panen tiap tahunnya dan tidak akan terkendala dengan hama. Dan melalui iklannya yang menyesatkan ia berhasil menarik simpati petani di dunia ketiga.

GMO (genetically modified organism) atau organism yang telah dimodifikasi merupakan produk andalan dari Monsanto contohnya organism transgenic yaitu penggabungan gen terhadap tanaman untuk mematikan hama yang menyerang tanaman tersebut. Dalam kasus ini kita bisa mengambil contoh kapas transgenic yang tahan terhadap hama, akan tetapi tanaman ini tidak cukup diuji di laboratorium tetapi langsung dijual ke pasar untuk menaikkan keuntungan perusahaan. Hal ini berlaku juga di Negara Indonesia melalui surat keputusan (SK) menteri pertanian no.107/kpts/KB/430/2/2001 tentang pelepasan secara terbatas kapas transgenic Bt DP 56908 sebagai varietas unggul dengan nama NuCOTN 35 B (Bollgard), semakin memperlancar penetrasi TNC di arena pertanian dan membuat para petani bingung mana program pemerintah mana kepentingan bisnis TNC. Dan pada tahun 2002 posisi Monsanto semakin luas hal ini diperkuat melalui SK mentan yaitu nomor 03/Kpts/KB 403/2002 tertanggal 11 januari 2002 tentang izin penanaman secara terbatas kapas transgenic yang belum tentu aman tersebut.

Monsanto chemical company didirikan pada tahun 1901, di saint Louis, Missouri oleh john francis quenny, seorang ahli kimia otodidak.dialah yang mengenalkan pada amerika mengenai metode pembuatan gula tiruan. Ambisi Monsanto untuk menguasai dunia dalam segala bidang terlihat dengan membeli perusahan internasional lainnya yaitu Cargill seed yang nota bene adalah pengekspor benih utama dunia dan melalui anak perusaannya inilah Monsanto menjual benih karyanya yang sangat tidak aman

Menurut J. Greer and Al, Monsanto adalah salah satu penghasil dioksin terbesar di dunia.apa itu dioksin Dioksin adalah nama senyawa yang diberikan pada suatu kelompok senyawa kimia yang bersifat super-toxic, yang jumlahnya ratusan, yang keberadaannya sangat mengganggu dalam lingkungan hidup. Senyawa dioksin yang paling beracun adalah 2, 3, 7, 8 tetraklorodibenzon-p-dioksin atau TCDD.dan hal ini dibenarkan oleh dokumen intern Monsanto yang didalamnya terdapat sebuak kalimat yangberbunyi “kami menghasilkan dioksin lebih banyak dari manapun”.

Alam memiliki kemampuan menghasilkan dan mengggandakan secara spontan termasuk benih. Jika petani memelihara dan memisahkan serta menyeleksi benih maka benih yang ditanam dan menghasilkan tanaman berkualitas akan menghasilkan benih baru yang sama dan hal ini dianggap oleh sebagian besar produsen benih sebagai kebiasaan yang bisa menjadi factor mundurnya perusahaan produsen benih tersebut. Maka untuk meng”handle”para petani maka salah satu cara yang paling efektif adalah melahirkan bibit steril : terminator.

Gen terminator adalah gen yang di berikan kepada tumbuhan sebagai alat untuk mencegah perkecambahan sehingga benih hanya bisa sekali di panen dalam setahun akan tetapi pihak Monsanto meyakinkan para petani bahwa benih ini lebih tahan hama sehingga factor pembunuh didalam tanaman tersebut tidak diungkit oleh pihak petani targetnya dari Monsanto Cuma satu yaitu ketergantungan petani. Tanaman yang memiliki gen pembunuh sangat mengancam keanekaragaman hayati karena para petani akan melupakan tanaman sebenarnya dan menggantungkan hidupnya pada tanaman yang dihasilkan di laboratorium yang belum teruji.

Menurut Janet Bell dan Micael Pimbert dalam bisnis kehidupan, jika kita menghancurkan keanekaragaman hayati, pada akhirnya langsung maupun tak langsung tidak hanya meng hancurkan spesies binatang tapi juga kehidupan kita sendiri.

Terlalu banyak kesalahan dan kebusukan yang di selimuti oleh kain media dan kelincahan para petinggi tuk memupuk kekayaan dari Monsanto. Semua ini adalah sebuah lingkaran setan yang bisa kita putuskan apabila kita memiliki keberanian tuk melawan pihak2 monsanto berkedok pejabat yang katanya dekat dengan petani.

Kesalahan terbesar Monsanto adalah menyebarkan 100.000 liter agent orange yang merupakan zat pembunuh rumput pada tanaman perkebunan di Vietnam selama kurang lebih 10 tahun yang akhirnya menyisahkan kisah sedih pemuda Vietnam yang lahir tak sempurna. Salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar yang pernah dilakukan di dunia ini.

Kesimpulan :
Sebagai mahasisiswa yang memiliki tanggung jawab moral dan terlebih lagi berada di lingkup yang sama yaitu IMTPI. Saya, dia, mereka, semua mari sama-sama kita desak pemerintah tuk mencabut SK mentan yang telah merugikan tanah dan petani kita dan juga mari berusaha tuk mendesak mengeluarkan mandat mengenai kebijakan paten dan pemilikan kehidupan dari WTO.

© reshinoda/agritech05